Blog Archives

A Lesson Learned from Budi Rahardjo

Image

-Belajar untuk menjadi manusia-

“Budaya keja keras dan tidak takut gagal harus ditanamkan pada dalam diri kita, di Indonesia dan Singapura, gagal adalah suatu aib yang tidak pantas dibicarakan, sedangkan di Amerika, gagal dianggap biasa, dan mereka lebih mempercayakan suatu pekerjaan kepada orang yang pernah mengalami kegagalan karena sudah tahu medan perangnya”

Budi Rahardjo merupakan salah satu profil entrepreneur sukses di Indonesia yang bergerak dalam bidang Information Technology. Kesuksesan beliau juga menjadi inspirasi bagi para kaum muda untuk dapat mengembangkan bisnis sedini mungkin dari sejak mahasiswa.

Sosok luar biasa ini merupakan seorang technopreneur, dosen Teknik Elektro ITB, penulis artikel di bidang IT, pembicara untuk berbagai hal yang berhubungan dengan IT, konsultan information security, dan juga seorang pemain musik. Pengalaman yang dimilikinya tidak diragukan lagi dapat menjadi panutan bagi generasi muda Indonesia untuk terus mengembangkan diri, selalu berusaha, dan pantang menyerah untuk mencapai kesuksesan.

Digital Business
3 tahap dalam Tahapan Globalisasi 3.3:

  1. Version 1.0: zaman dahulu dimana masyarakat hanya mementingkan kewarganegaraan
  2. Version 2.0: zaman globalisasi multinational companies dimana mereka hanya mementingkan nama baik perusahaan
  3. Version 3.3: version 3.0 yang dimodifikasi terkait dengan bagaimana kita menjadi diri sendiri. Bagaimana kita membawa diri kita sendiri, bukan dari mana asal dan kapan kita hidup.

Tiga tahap globalisasi tersebut merupakan pedoman penting bagi beliau dalam menegembangkan bisnis dalam bidang digital. Saat ini, Indonesia harus dapat membuat bisnis teknologinya sendiri. Produk baru yang potensial untuk dikembangkan terkait dalam bidang informasi dan sistem digital, seperti musik, film, buku dan softaware. Tugas kita sebagai generasi muda untuk menciptakan sesuatu karya yang berguna untuk bangsa.

Analog to Digital

Hal yang menjadi kunci kesuksesan adalah pentingnya mencoba untuk menjadi entrepreneur ketika menjadi mahasiswa. Alasannya adalah kesalahan atau kegagalan lebih dapat ditolerir ketika menjadi mahasiswa. Setelah lulus, kita akan menerima lebih banyak tanggung jawab terkait harapan dari banyak pihak (orang tua, keluarga, masyarakat) adalah untuk menghasilkan uang. Sementara itu, entrepreneurship seperti kita ketahui bukan merupakan hal yang instan dan memerlukan proses untuk mencapai kesuksesan.

Kepedulian yang tinggi terhadap diri sendiri, menjadi diri sendiri, mengedepankan kemauan diri sendiri disertai dengan passion yang dimiliki penting untuk ditanamkan dalam diri kita masing-masing.
Begitu pula dalam hal bisinis, jika kita membuat bisnis yang kita sukai, maka itulah sukses. Semuanya menyenangkan. Bisnis tidak menjadi beban, tetapi menjadi hal yang menyenangkan. Dengan memiliki modal itu semua, maka orang-orang akan menjadi maju dan berubah menjadi lebih positif.

-Rike Giri Cahyadi-

Advertisements